Menyikapi Sebuah Perbedaan

Perbedaan pendapat dan pemahaman tentang suatu masalah agama adalah suatu hal yang tak dapat kita elakkan. Merupakan sunatulloh yang harus kita sikapi dengan arif dan bijaksana.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa’: 59)

“Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” [Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (4/126), Abu Dawud, no. 4607, At Tirmidziy, no. 2676 dan beliau mengatakan (hadits ini) hasan shahih, dan Ibnu Majah, no.44, Ad Darimiy, (1/44-45). Al Bazzaar berkata: Hadits ini Tsaabit Shahiih. Ibnu Abdil Barr berkata: (derajat) hadits ini seperti yang dikatakan oleh al Bazzaar, Jaami’u Bayaanil ‘Ilmi, hal. 549.]

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan adalah:

  1. Ada perbedaan yang memang memungkinkan untuk berbeda, misalnya doa ketika sujud, bisa membaca “Subhaana robiyal a’la 3x” ATAU “Subhaana robiyal a’la wabihamdihi 3x” ATAU “Subbuuhun Qudduusun Robbul Malaaikati Warruuh” ATAU “Subhanakallohumma Robbanaa wabihamdika Allohummaghfirli” atau beberapa doa sujud lainnya yang memang ada riwayatnya yang shahih dari Nabi (Lihat sifat Sholat Nabi, ada 12 macam bacaan). Juga masalah sholat tarawih pada bulan ramadhan, boleh 11 Rokaat (ini yang biasa dilakukan Rosululloh) ATAU 23 Rokaat misalnya (Karena ketika ditanya tentang sholat malam, Nabi menjawab: “Solat malam itu dua, dua” artinya sholat malam itu dua rokaat (1salam) dua rokaat (1salam) tanpa pembatasan jumlah rokaat, dengan syarat TUMA’NINAH).
  2. Ada suatu perbedaan pendapat yang tidak mungkin semuanya benar, pasti ada yang benar dan ada yang salah. Kalau ditanya: Selamatan kematian dan tingkeban itu ajaran Islam ataukah ajaran agama Hindu? Maka jawabannya jelas, Ajaran agama Hindu. Maka janganlah kita meniru-niru mereka, karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk (golongan) mereka. (Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban). Kalau ada dua ucapan bahwa ada bid’ah yang baik dan ada yang bilang setiap bid’ah adalah sesat, maka kita hanya berani memilih bahwa setiap bid’ah adalah sesat karena itu adalah ucapan Rosululloh yang tak mungkin dibantah.
  3. Agar bisa bersikap arif dan bijaksana dalam menyikapi sebuah perbedaan (perselisihan) kita harus rajin menuntut ilmu, rajin mengasah otak kita untuk berpikir bukan mengedepankan otot (demo, menfitnah, merusak, menteror, anarkis, dsb), karena suatu masalah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengedepankan otot. Kita pelajari Al Quran dan Sunnah dengan baik sehingga kita bisa membedakan mana yang hak dan mana yang bathil, karena keduanya sebagai Al Furqon, pembeda antara yang hak dan yang bathil. Kita juga harus rajin bertanya kepada ulama yang berkompeten apabila kita bingung atau tidak paham tentang suatu masalah. Setelah menuntut ilmu, lalu beramal, berdakwah dan bersabar.
  4. Kebenaran hakiki hanya milik Alloh semata, namun Alloh telah menurunkan Al Quran dan Rosululloh telah menjelaskannya dalam Sunnah Beliau, bahwa hal-hal yang mendekatkan ke surga telah jelas dan hal-hal yang mendekatkan ke neraka telah jelas pula. Jadi kita bisa mengatakan jika kita berpegang teguh dengan keduanya maka kita akan selamat, namun jika kita melenceng dari keduanya (apalagi bikin amalan sendiri) maka kita akan tersesat. Nabi bersabda: “Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah Kitabullah (al-Qur’an), sebaik-baiknya petunjuk ialah petunjuk Muhammad, sejelek-jelek perkara ialah yang diada-adakan (bid’ah), dan setiap bid’ah itu sesat.” (Diriwayatkan oleh Muslim). Jadi kalau ada orang membuat amalan ibadah sendiri, maka masuk dalam ancaman di atas. Telah jelas dan gamblang.
  5. Yang haq dan yang bathil telah jelas, maka dari itu kita diberi tugas untuk AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR. Karena tanpa mengetahui mana yang salah dan mana yang benar, bagaimana kita akan berdakwah dan ber amar ma’ruf nahi munkar? Sehingga ketika ada yang mengaku menjadi Nabi, kita telah yakin dengan seyakin yakinnya itu tidak benar dan ia telah berdusta karena telah jelas nashnya bahwa Rosululloh Muhammad adalah Nabi dan Rosul terakhir. Ketika ada yang berpendapat bahwa sholat subuh 4 rokaat adalah lebih baik, maka kita bisa menolaknya karena hal itu sesat dan menyesatkan, karena yang haq adalah sholat subuh itu 2 rokaat.
  6. Kita hindari fanatik madzhab, kelompok, kyai, organisasi, dlsb. Karena hal itu akan menghalangi kita dari petunjuk Al Quran dan Sunnah. Padahal Rosululloh telah berpesan, bahwa Beliau telah meninggalkan dua perkara, yang mana jika kita berpegang teguh terhadap keduanya maka kita tidak akan tersesat selamanya, yaitu Al Quran dan Sunnah. Orang yang arif dan bijaksana akan mudah menerima apa-apa yang ada dasarnya dalam Al Quran dan Sunnah dan legowo jika ternyata harus meninggalkan kebiasaanya karena ternyata menyalahi tuntunan Al Quran dan Sunnah.
  7. Yang perlu kita pahami juga adalah, bahwa setiap imam madzhab berpesan agar kita berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah. Mereka mengambil setiap hadits shahih dan menjadikan pendapat madzhabnya, serta siap meralat pendapat mereka yang mungkin menyalahi hadits shahih. Sebaliknya kita kadang mentah-mentah menolak hadits shahih dengan alasan tidak sesuai dengan madzhab kita, padahal dengan menolaknya otomatis kita telah menentang para imam madzhab. Lantas madzhab mana lagi yang kita ikuti?
  8. Tentang hadits “Perbedaan/perselisihan di kalangan ummatku adalah rahmah”, ini adalah hadits DHO’IF yang tidak dapat dijadikan hujjah. Kalau perselisihan adalah rahmah, maka persatuan adalah laknat. Tentu tidak demikian. Alloh memerintahkan kita untuk bersatu. “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (Ar Ruum 31-32).

Ada seorang tokoh nasional yang terlalu “baik hati” (atau kebingungan dan gak yakin kalau islam yang benar) mengatakan bahwa semua agama sama/benar. Ada juga yang bilang, keluarga yang sukses dalam menerapkan/menghargai keberagaman adalah jika satu keluarga ada anggota keluarga yang beragama Islam, Kristen, Hindu, Buda, dan lainnya. Ada yang bilang iblis nanti akan masuk surga, karena waktu disuruh Alloh sujud kepada Adam, iblis menolak karena tahu bahwa yang berhak disujudi hanyalah Alloh semata. Padahal nash Al Quran jelas, iblis menolak sujud karena sombong merasa lebih baik karena diciptakan dari api sedangkan Adam diciptakan Alloh dari tanah. Tugas manusia adalah berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar, menjelaskan yang haq dan yang bathil berlandaskan Al Quran dan Sunnah, bukan berlandaskan akal dan perasaan sehingga menjadi orang yang terlalu “baik hati” seperti tersebut di atas. Ada lagi seseorang tokoh yang terlalu baik hati sehingga membolehkan yang dilarang dan melarang yang dibolehkan, mungkin karena takut kehilangan kedudukan di masyarakat dan ditinggalkan, atau tidak/belum mengetahui, kita tidak mengetahuinya.

Telah bercerita seorang tokoh kepada kami, bahwa dahulu beliau (sebelum mengenal sunnah, sekarang beliau berdakwah mengajak umat kepada Al Quran dan Sunnah) sangat membenci sebuah kelompok yang memang berseberangan dengan kelompoknya, beliau dan kelompoknya biasa menyebut “saingannya” tersebut dengan kata “HUM” yaitu kata ganti untuk orang-orang kafir yang banyak Alloh sebutkan dalam Al Quran. Secara tidak langsung…… Begitulah, taqlid buta dan fanatik kelompok membuat seseorang terjerumus dalam dosa yang lebih besar. Semoga Alloh melindungi kita darinya.

Allohu A’lam, yang benar datangnya dari Alloh, yang salah dari kami pribadi dan syaithon dan kami berlindung kepada Alloh darinya. Semoga kita dimudahkan oleh Alloh dalam menuntut ilmu, menambah-nambah ilmu kita, memudahkan kita beramal, berdakwah dan bersabar atasnya, menjadikan kita orang yang arif, bijaksana dan berjiwa besar. Senantiasa melimpahkan rohmah dan hidayahNya, dan memberi kita kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin.

“Kelak akan datang suatu zaman, orang yang bersabar di atas agamanya semisal orang yang menggenggam bara api”. (HR Tirmidzi, Silsilah Hadits Shohih no. 957)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: